Bisakah Janin Kedinginan Atau Kepanasan Dalam Kandungan?

0

Kehamilan adalah salah satu momen yang dinanti-nantikan oleh banyak wanita. Penting untuk menjaga kehamilan sebaik mungkin supaya ibu dan janinnya tetap sehat walafiat sampai persalinan tiba.

Saking protektifnya, ibu hamil mungkin sangat menghindari cuaca ekstrem seperti kepanasan, entah itu terlalu lama beraktivitas di bawah terik matahari atau mandi air panas, supaya janinnya tidak ikut kepanasan. Lantas, apa benar kalau sering kepanasan saat hamil bisa bikin janin kepanasan? Memangnya janin di dalam kandungan bisa merasakan panas atau dingin?

Panas, terutama yang banyak meningkatkan suhu tubuh Anda dan dalam waktu yang lama, memang bisa membahayakan janin dalam kandungan. Para ahli mengungkapkan bahwa suhu tubuh ibu hamil yang terlalu tinggi berisiko menyebabkan cacat tabung saraf (spina bifida) pada bayi hingga keguguran. Namun, yang jadi pertanyaan yaitu apa mungkin ibu yang kepanasan saat hamil menyebabkan janin kepanasan juga?

Perlu diketahui bahwa suhu inti tubuh manusia sebetulnya akan tetap normal meskipun cuaca di luar sedang panas atau dingin. Sementara itu, suhu janin biasanya akan mengikuti suhu tubuh ibunya. Jadi, kalau suhu tubuh Anda tetap normal, maka suhu janin pun juga akan tetap normal dan hangat.

Sayangnya, sampai saat ini belum diketahui dengan jelas apakah janin juga bisa merasakan kepanasan dan kedinginan atau tidak. Namun, hal ini diduga ada hubungannya dengan kondisi kesehatan ibu.

Bayi dalam kandungan rentan mengalami hipotermia, yaitu penurunan suhu tubuh yang terlalu cepat dan menyebabkan kedinginan. Itulah kenapa bayi dilindungi oleh air ketuban untuk menjaga bayi tetap hangat dan terhindar dari infeksi.

Ketika ibu terkena demam hingga lebih dari 38 derajat Celcius, suhu janin dapat mengalami peningkatan atau terkena demam yang sama. Demam tinggi saat hamil dapat disebabkan oleh banyak hal, salah satunya karena infeksi cairan ketuban atau chorioamnionitis.

Chorioamnionitis dapat terjadi ketika ada bakteri yang berhasil masuk dan menginfeksi lapisan korion (membran luar), amnion (selaput ketuban), dan cairan ketuban yang mengelilingi janin. Jika ibu mengalami infeksi ketuban, maka janin bisa mengalami stres. Secara medis, hal ini disebut gawat janin (fetal distress).

Saat terjadi gawat janin, bayi dalam kandungan tidak mendapatkan cukup oksigen dari ibunya. Akibatnya, detak jantung bayi jadi tak beraturan dan mengalami peningkatan. Nah, peningkatan detak jantung inilah yang sering dianggap bahwa janin sedang terkena demam atau kepanasan.

Ketika ibu mengalami kedinginan yang parah alias hipotermia, bukan berarti janin juga akan mengalami kedinginan dalam kandungan. Akan tetapi, kondisi ini juga tidak bisa dianggap sepele.

Suhu tubuh ibu yang menurun drastis secara tiba-tiba dapat menyempitkan pembuluh darah ibu. Akibatnya, aliran darah yang mengandung oksigen gagal diantarkan sampai ke tubuh janin, sehingga janin kekurangan oksigen. Jika ibu terus dibiarkan dalam keadaan hipotermia, maka janin dalam kandungan bisa tumbuh cacat atau bahkan meninggal dalam kandungan.

Jadi singkatnya, ibu hamil yang merasakan kepanasan atau kedinginan biasa tidak akan berdampak apa pun pada bayi dalam kandungannya. Kecuali jika ibu mengalami kepanasan atau kedinginan yang ekstrem, ini baru bisa berdampak fatal bagi bayi dan perlu segera ditangani.

Share.

About Author

Leave A Reply