Berat Badan Bayi Lahir Rendah? Apa Penyebabnya?

0

Berat lahir bayi mencerminkan hasil perkembangan dan kecukupan nutrisi dalam kandungan. Pada datanya bayi dikatakan memiliki berat lahir rendah atau BBLR apabila memiliki berat badan kurang dari 2500gr (2,5 kg). Beberapa klasifikasi lain mengatakan untuk berat lahir rendah adalah berat lahir  jika di bawah 1,5 kg “sangat rendah” , dan berat lahir  jika di bawah 1 kg “rendah ekstrem”.

Berat lahir rendah tidak hanya mempengaruhi kondisi bayi saat dilahirkan tetapi juga kesehatan bahkan kelangsungan hidup bayi. Pada umumnya, bayi yang dilahirkan prematur atau kurang dari 37 minggu usia kandungan memiliki berat lahir yang lebih rendah dari bayi normal.

Di samping jangka waktu kehamilan, berat lahir bayi ditentukan oleh beberapa faktor yang pada umumnya berkaitan dengan kesehatan ibu dan kesehatan saat kehamilan.

1. Status gizi ibu bayi sebelum masa hamil

Seorang calon ibu bayi harus memenentukan asupan yang diperoleh bayi dalam kandungan. Kecukupan status gizi sebelum masa kehamilan dapat dinilai menggunakan indeks masa tubuh (IMT). Dalam salah satu penelitian menunjukkan perempuan yang berbadan kurus atau dengan IMT < 18,5 memiliki peluang dua kali lebih besar untuk melahirkan bayi dengan berat rendah dibandingkan individu dengan IMT normal. Saat sebelum memasuki masa kehamilan, IMT menggambarkan perkembangan tubuh dan kecukupan asupan untuk ibu dan bayi.

2. Usia Ibu saat sedang hamil

Usia normal untuk menjalani kehamilan atau sekitar 20-29 tahun. Namun, bayi terlahir dengan berat rendah pada umumnya ditemukan pada ibu yang hamil saat usia remaja. Hal ini disebabkan  kecukupan nutrisi pada usia tersebut. Kehamilan usia remaja yang paling sering  terjadi pada usia 15-19 tahun. Akibatnya,  risiko melahirkan berat bayi lahir rendah menjadi lebih tinggi 50%.

3. Berat badan ibu bayi Pasca kehamilan

Kenaikan berat badan berkisar antara 5 kg hingga 18 kg  disesuaikan dengan status gizi sebelum hamil, pada individu berbadan normal kenaikan berat badan yang disarankan sekitar 11 kg hingga 16 kg. Peningkatan asupan sebelum kehamilan perlu diperhatikan untuk memenuhi kebutuhan bayi karena akan berdampak pada kenaikan berat badan saat kehamilan.

4. Jarak waktu melahirkan anak dengan Kehamilan

Jika waktu kehamilan terlalu berdekatan dengan waktu melahirkan anak sebelumnya maka kemungkinan tubuh ibu bayi belum menyimpan nutrisi yang cukup untuk kehamilan selanjutnya. Kebutuhan nutrisi akan meningkat saat hamil, dan akan lebih tinggi lagi jika ibu mengalami kehamilan dan harus memberikan ASI secara bersamaan.

5. Kesehatan ibu

Kesehatan ibu saat menjalani kehamilan maupun riwayat kesehatan sebelum dapat  berkontribusi menyebabkan BBLR. Tidak hanya masalah kesehatan fisik, namun juga kesehatan psikologis ibu. Berikut beberapa masalah kesehatan ibu yang dapat menyebabkan bayi berat lahir rendah:

  1. Anemia – Kondisi ini pada umumnya disebabkan karena kekurangan zat besi (Fe) dalam darah saat kehamilan dan diatasi dengan mengonsumsi suplemen tablet Fe saat hamil.
  2. Riwayat keguguran dan melahirkan BBLR – salah satu masalah yang menyebabkan keguguran adalah ketika tubuh tidak dapat mempertahankan kandungan. Individu dengan usia lebih dari 30 biasanya lebih berisiko memiliki kandungan yang lebih lemah sehingga berisiko melahirkan prematur dan BBLR.
  3. Penyakit Infeksi – beberapa penyakit infeksi yang dapat menyebabkan BBLR adalah HIV, toxoplasmosis dan listeria. HIV dapat ditularkan melalui plasenta ibu yang terinfeksi HIV kepada bayi hingga menyebabkan gangguan perkembangan dan imun bayi sejak dalam kandungan. Sedangkan toxoplasmosis dan listeria menginfeksi lewat makanan yang tidak matang atau tidak higienis.
  4. Komplikasi kehamilan – di antaranya gangguan pada uterus dan letak plasenta yang lebih rendah sehingga bayi harus dilahirkan dengan operasi caesar saat kurang dari usia kandungan normal.
  5. Pregnancy blues – disebabkan gangguan hormonal yang menyebabkan kesedihan terus-menerus selama hamil. Dampaknya dapat menghilangkan nafsu makan dan kelelahan yang konstan pada ibu hamil.
  6. Paparan alkohol dan asap rokok saat hamil (pasif maupun aktif) – konsumsi keduanya menyebabkan racun masuk ke aliran darah ibu hamil dan dapat merusak plasenta, sehingga dapat merusak sumber nutrisi bagi bayi dalam kandungan. Keduanya juga dapat menyebabkan kerusakan sel terutama protein dan lapisan lipid. Konsumsi alkohol sebanyak 20 gram saja dapat menyebabkan janin mengalami hambatan perkembangan dan bernapas.

 

Share.

About Author

Leave A Reply